Tags

, , , , ,

S: Bandara Schiphol di Amsterdam Belanda

Seandainya perjalanan sesuai dengan rencana dan jadwal yang ada, saat tulisan ini terpublikasi maka saya sedang mampir sejenak di Bandara Schiphol Amsterdam. CGK – KUL – AMS memakan waktu 16 jam 30 menit.

Schiphol katanya salah satu bandara terpadat di dunia terletak sekitar 3 meter di bawah permukaan laut, dan pada tahun 2002 saya mengalami hal yang mengasyikkan di bandara ini. Tulisan berikut ini adalah nostalgia saat menclok di Schipol pada 16 September 2002.

Pertama kali datang di Schiphol, saya bersama kang Syarif, mas Bobby, mbak Yanti, dan mbak Nita. Kami berlima berangkat bareng dari CGK untuk tujuan kota yang sama yaitu Enschede, Belanda. Tidak ada yang terlalu spesial saat dalam perjalanan. Yang spesial rupanya menanti justru saat berada di bandara Schiphol ini.

Pesawat mendarat dengan mulus malam hari, dan kami melewati imigrasi dengan aman nyaman. Saat di tempat pengambilan bagasi, semua lancar didapat kembali bagasinya, kecuali… mbak Nita..!

Koper Nita nggak keluar, waduh…

Nita segera ke bagian Lost and Found untuk mengurusnya, dan kami menunggu.

Menunggu dengan ketar-ketir karena jam sudah menunjukkan pukul 10an malam. Kereta terakhir dari Schiphol ke Enschede adalah jam 10.30an (lupa persisnya).

Jam keberangkatan kereta terlewati, barulah urusan lost and found selesai. Dan kami tidak tahu bagaimana mencapai Enschede, yang berada di sisi Timur Belanda, berbatasan dengan Jerman, tanpa kereta. Duh…

Lihat jadwal keberangkatan kereta terdekat adalah sekitar jam 5 pagi…

Pendatang yang manyun :D

Pendatang yang manyun 😀

Akhirnya diputuskan: kami menginap di bandara. Yes, jadinya nggelosor aja deh di ruang tunggu bagian luar, dengan gantian jaga barang. Mmmm… di Amsterdam terkenal copetnya, terutama di lokasi keramaian seperti stasiun atau bandara, maka kehati-hatian akan barang bawaan adalah yang utama.

Ruang tunggu di bandara ini cukup luas, dan terlindung dari udara luar. Jadi lumayanlah. Repotnya cuma kedai-kedai sudah pada tutup, jadi nggak bisa jajan cemilan. Yang jualan adanya cuma mesin.

Udara lumayan dingin bagi orang yang biasa hidup di daerah sekitar khatulistiwa.

Pagi hari segera siap, tanpa mandi dan gosok gigi, kami segera ke stasiun kereta di lantai dasar. Naik jurusan Enschede, dan singkatnya, sampailah dengan selamat sentausa di tujuan.

Nostalgia ngemper di Schiphol tak ‘kan terlupa…
)
Advertisements