Tags

, , , , , , , , , , ,

Simposium

Simposium

Hari ini saya merasa keliling dunia hanya dalam waktu enam jam. Acara simposium di International Center benar-benar membawa ke banyak lokasi di dunia.

Graduate Student Research Symposium adalah acara yang digelar untuk menampilkan riset yang tengah dilakukan oleh mahasiswa baik yang sedang mengambil master ataupun doktor di Fakultas Kehutanan. Kali ini diikuti oleh 14 mahasiswa dan dihadiri oleh para pembimbing masing-masing dan juga semua mahasiswa yang berminat hadir. Diundang juga banyak pihak pemangku kepentingan masalah kehutanan dan lingkungan.

Acara dimulai tepat waktu, dibuka oleh chair-nya Dept of Forestry, Dr. Richard Kobe, dilanjutkan oleh pembicara kunci Dr. Daniel Kashian, lulusan UM yang saat ini bertugas di Wayne State University, Detroit.

Begitu masuk ke acara paparan segera saya dibawa ke sekeliling wilayah Michigan oleh Willis. Lucas sebagai presenter berikutnya bicara tentang black carbon decomposition. Setelah itu Moussa membawa terbang jauh melintas samudera Atlantik ke Senegal, di pantai Barat benua Afrika. Ia bicara tentang pengukuran carbon di daerah savana.

Miaoying kemudian mengajak terbang jauh lagi ke daerah Timurlaut Cina membicarakan perubahan tutupan hutan disana, tepatnya di Provinsi Heilongjiang. Sedangkan Warveen menarik kambali ke daerah panas konflik yaitu Kurdistan, yang merupakan daerah perbatasan Turki dan Irak. Ia bicara tentang deforestasi yang terjadi di tanah tak bertuan.

Sesi berganti, Heather kembali mengajak ke East Lansing bicara tentang keterlibatan komunitas pada taman kota. Ellen, kemudian, mengajak terbang ke daerah Selatan, yaitu negara Costa Rica, bicara tentang kendala pada proses forest restoration. Dari Costa Rica, Dori mengajak kembali ke negara Amerika bicara tentang standarisasi protokol pengumpulan data.

Erika sebagai presenter selanjutnya mengajak terbang jauh lagi, ke pantai Barat benua Afrika, yaitu ke negara Benin. Ia bicara tentang tempat-tempat keramat yang mendukung pertumbuhan pepohonan atau tanaman lokal. Ini menarik, mirip dengan beberapa lokasi adat di Indonesia, tampaknya.

Christine kembali menarik cerita ke Detroit, dimana banyak penduduk yang menolak menerima/menanam pohon yang diberikan gratis oleh pemerintah. Perlu pendekatan khusus untuk menyadarkan pentingnya pohon.

Sesi terakhir ada Malcolm yang bicara model tentang evapotranspirasi, dengan menggabungkan beberapa data dari sensor satelit yang berbeda. Kaelyn kemudian mengajak kembali ke Michigan dan sekitarnya dengan bicara tentang salah satu jenis kumbang yang dideteksi menggunakan tomografi akustik, pencitraan termal inframerah, dan spektral pada NIR. Neil membawa terbang jauh ke Alaska, bicara tentang penggunaan LIDAR untuk prediksi biomassa. Uy mengajak lebih jauh lagi yaitu ke India, Malaysia dan Indonesia untuk bicara tentang hutan industri.

Benar-benar dibawa keliling dunia dengan berbagai permasalahan yang sangat menarik.

Meskipun ini bukanlah hal yang pertama kali saya mengalaminya, tapi saya selalu menikmati perjalanan luar biasa asik dan menarik seperti ini. Hanya dalam waktu enam jam saya disajikan keindahan sekian lokasi yang mungkin saya tidak akan pernah sampai disana. Berada dalam ruang itu membuat saya merasa menjadi bagian dari masyarakat dunia.

Bukan lebay, tapi memang itulah yang dirasakan, sama persis saat saya berkegiatan di tanah air. Saat mana saya bersama para adik Pramuka di Jambore Nasional OKI Sumsel, atau saat ikut meramaikan Lomba Tingkat V di Cibubur, atau saat bersama para pembina se-Indonesia di Cibubur, saya sangat merasa menjadi orang Indonesia.

Anda pasti pernah mengalaminya juga dalam kejadian lain, selama anda mencintai keberagaman karunia Nya.

Berada di antara manusia-manusia asik yang selalu menceritakan keindahan itu membuat hidup lebih hidup.
)
Advertisements