Tags

, , ,

...

Deret 2,3,5,7,11,13,17, … adalah bilangan prima, kita mempelajarinya di bangku sekolah. Ada tak hingga banyak bilangan prima, kita mungkin mempelajarinya di ruang kuliah. Lalu ada berapa banyak pasang bilangan prima bertetangga dengan selisih 2, misal (3 dan 5), (5 dan 7), (11 dan 13), dan seterusnya, yang disebut sebagai ‘bilangan prima kembar’, belum ada matematikawan yang bisa menjawabnya… sampai sekarang. Padahal usia pertanyaan itu sudah ratusan tahun.

Untuk ‘mempermudah’ masalah, tahun 1849 pertanyaan di atas dirubah: ada berapa banyak pasang bilangan prima dengan selisih selain 2? Ternyata jawabannya juga tidak bisa didapatkan… sampai beberapa bulan yang lalu! Yitang “Tom” Zhang menjawab pertanyaan berusia lebih dari 150 tahun itu dengan membuktikan bahwa ada tak hingga pasang bilangan prima dengan selisih kurang dari 70 juta! Dunia matematika gempar!

Namun yang lebih menggemparkan, karya kelas dunia itu bukan ditulis oleh profesor dari Princeton atau Harvard atau Cambridge, tapi dari sebuah kampus kecil University of New Hampshire oleh seorang lecturer berusia hampir 60 tahun. Dalam sistem pendidikan tinggi Amerika, tugas lecturer hanya mengajar, tanpa tugas penelitian, karena itu tidak dapat menjadi professor. Yitang Zhang sudah menjadi lecturer selama 15 tahun. Bahkan sebelum itu dia harus menjadi sopir pengantaran makanan di restoran, penjaga wisma melati, dan pembuat sandwich karena tidak mendapat pekerjaan yang pantas setelah lulus S3 dari Purdue University, salah satu universitas top Amerika! Dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas di masa muda tidak membuat Yitang putus asa atas nasib yang tidak seperti yang diharapkannya. Semua dijalaninya dengan sabar dan lapang dada. Dan Tuhan membalas kesabarannya.

Secepat kilat setelah karyanya diterbitkan (di Annals of Mathematics, salah satu jurnal tertinggi matematika), Yitang Zang dikenal orang. Secepat kilat pula nasibnya berubah: dia langsung diangkat menjadi profesor di kampusnya. Yitang diundang berbicara di mana-mana. Bahkan Andrew Sutherland dari MIT bercerita ketika dia checked-in di sebuah hotel di Chicago dan menyampaikan bahwa dia di situ untuk menghadiri sebuah konferensi matematika, petugas hotel berkata, “Wow, 70 juta ya?!”

Yitang membalik anggapan umum bahwa karya puncak seorang matematikawan besar dicapai sebelum usia 35. Ketika ditanya bagaimana dia mendapatkan ide karyanya, Yitang menjawab ide itu didapat ketika dia sedang mengunjungi seorang teman dalam rangka liburan. “Saya tidak membawa catatan sama sekali, atau buku, atau kertas,” dia berkata. “Dan tiba-tiba saja ide itu datang pada saya.”

Tuhan memang bekerja sesuai kehendak-Nya. Semua sesuka-suka Dia. Yang diinginkan dari kita hanya bersabar dalam berusaha: senantiasa melakukan yang terbaik dan sepenuhnya menyerahkan hasilnya kepada-Nya

*/ ditulis oleh Hadi Susanto, Senior Lecturer (Associate Professor) University of Essex pada status Facebook 21 Februari 2014.

Advertisements