Tags

, , , , , , , ,

Pemberitaan di tempo.co mengenai kerugian akibat bencana alam.

Pemberitaan di tempo.co mengenai kerugian akibat bencana alam.

Pada tanggal 18 Maret 2014, tanpa sengaja, saya menemukan dua buah judul pemberitaan dikoran daring tempo.co. Dua judul ini menarik karena terkait dengan subyek yang sama tetapi terdapat perbedaan angka yang disebutkan pada judulnya.

Pemberitaan adalah seputar bencana kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berita itu adalah:

  • 19 Ribu Hektare Lahan Terbakar, Riau Rugi 15 Triliun, Rabu, 19 Maret 2014 | 05:33 WIB, silakan baca dengan klik disini.
  • Rp 10 Triliun, Kerugian Kebakaran Hutan di Riau, Rabu, 19 Maret 2014 | 06:39 WIB, silakan baca dengan klik disini.

Dua berita yang berbeda posting sekitar satu jam, dengan narasumber yang berbeda, tetapi bicara hal yang sama yaitu kerugian akibat bencana kebakaran hutan dan lahan dalam angka Rupiah.

Perbedaan angka adalah (hanya) lima angka, yaitu 10 dan 15. Tetapi dalam satuan Triliun akan menjadi sangat jauuuuh…

Saya tidak mempermasalahkan pihak wartawan, tempo.co, ataupun sang narasumber dari masing-masing berita ini. Saya hanya tertarik mengenai bagaimana menghitung nilai kerugian akibat suatu bencana, apalagi ini adalah bencana asap.

Jika bencana yang menghancurkan harta benda (misal: bangunan, kendaraan, infrastruktur) masih bisa lebih gampang membayangkannya. Tetapi jika bencana asap tentunya akan lebih sulit menghitungnya, walau yang terakibat adalah kondisi kesehatan manusia secara langsung.

Dengan latar belakang bukan dibidang ekonomi dan juga tidak bermain dikebencanaan, maka saya tidak bisa membayangkan cara menghitung kerugian yang tertulis pada artikel tersebut. Melihat perbedaan yang ada, kesimpulan cepat saya adalah belum adanya metode baku yang digunakan dalam perhitungan akibat bencana baik secara umum maupun spesifik (asap, banjir, gempa, gunung meletus, tsunami, dll).

Dari googling saya menemukan tulisan menarik dari Kevin L. Kliesen pada laman situs web Federal Reserve Bank of St. Louis, yang berjudul: The Economics of Natural Disaster. Sila baca dengan klik disini.

Simpel dan memang masih umum, tapi lumayanlah untuk nambah wawasan. Versi pdf silakan unduh dengan klik disini. Versi png klik disini.

Eh, tapi mungkin sekali BNPB atau Kementerian Keuangan RI sudah punya hitungan yang lebih detil sesuai dengan kondisi lokal Indonesia. Mestinya sudah ya, ini kan bukan barang baru ya, maksudnya pelaporan kerugian akibat bencana.

Seandainya sudah ada, dan dapat dilakukan oleh para pimpinan daerah, atau lembaga di provinsi (BPBD..?), maka tidak akan ada perbedaan menyolok atas angka kerugian yang diderita, siapapun narasumbernya. Asal… pernyataannya bukan dari politisi…

*/ : )

Advertisements