Tags

, , , , , ,

... : )

… : )

Satu Syawal telah dilalui, hari ini tengah memasuki “Lebaran hari ke-2”. Sambil menikmati hari libur kantor (cuti), maka saatnya menuliskan pengalaman yang terlewat.

Bulan Ramadan kali ini adalah bulan Ramadan pertama bersama keluarga di lokasi yang jauh dari saudara lingkaran dekat, lingkaran A1 katanya :D.

Bagi saya merupakan pengulangan kondisi sekian tahun yang lalu, tetapi bersama keluarga adalah pengalaman pertama. Banyak hal menantang yang dialami. Pertama adalah panjang hari yang berbeda lebih panjang daripada di tanah air. Panjang hari selama Ramadan ini mendekati 17 jam, sementara biasanya di kampung halaman rerata 13 jam. Beda 4 jam terlihat sangat “wah” saat mana Ramadan belum menjelang.

Saat hari pertama Ramadan, semua prediksi “kesulitan” dalam mengatasi 17 jam itu sama sekali tidak terbukti. Hari yang dimulai pada saat terbit fajar pada jam 4 lewat sekian dan diakhiri pada jam 21 lewat sekian dilalui dengan biasa saja. Tidak ada perbedaan berarti dibandingkan saat mana yang “biasa dialami”, saat panjang hari sekitar 13 jam. Perbedaan empat jam tidak terasa sama sekali. Bukan hanya oleh saya sendiri, tetapi oleh semua anggota pasukan di rumah ini, semua nyantai aja tuh… :D.

Mungkin, kami masih sangat terkondisi dengan suasana “jam matahari”, dimana saat jam 18 masih terang benderang, sehingga tidak terpikir untuk “menunggu beduk” berbuka. 😀

Seminggu Ramadan berlangsung, warga di “kampung sini” merayakan hari kemerdekaan negaranya (pada 4 Juli). Suasana menjelang dan pada hari perayaan hari kemerdekaan ini dipenuhi dengan ledakan kembang api di udara dimana-mana. Hal ini membawa perasaan seolah berada saat di “kampung sana”. Kebisingan ledakan kembang api (atau mercon?) yang bertebaran di angkasa ini mendekatkan suasana yang biasa dialami. Menyenangkan sekali 🙂

Lupa sahur adalah hal yang selalu dialami, begitu juga dengan Ramadan kali ini. Kejadian pertama adalah saat bangun sahur dan waktu tinggal tersisa hanya lima menit, maka minum susu dan air putih sempat dilakukan. Kejadian berikutnya beberapa hari kemudian, terbangun saat mana waktu fajar sudah masuk, maka tak sahur sama sekali dah… 😀

Tapi, alhamdulillah, 17 jam terlalui dengan aman nyaman tanpa keluhan dari pasukan walau tidak ada sahur. Semua menikmati hari-hari Ramadan, tampaknya… 🙂

Bagaimana kegiatan sehari-hari..?

Saya seperti biasa berangkat dari rumah (lebih sering) jam 6.30 dan menunggu bus di halte jam 6.45. Sore sampai rumah juga sekitar jam 19.00. Godaan terberat adalah saat jam istirahat siang sekitar jam 12 hingga jam 13, harum makanan semerbak di ruang kantor… 😀

Sementara itu pasukan di rumah sudah berani eksplorasi daerah baru di “kampung sini” dengan pergi sendiri ke berbagai tempat. Bus adalah alat transportasi kami yang utama saat ini, dan karena kami semua terbiasa dengan hal serupa di “kampung sana” maka penyesuaian dengan kondisi lokal tidaklah sulit. Mengunjungi berbagai supermarket untuk mencari pengalaman belanja sekaligus mencari bahan makanan untuk rumah adalah salah satu kegiatan menarik.

DSC_7309

Kegiatan ini sebenarnya cukup melelahkan dari sisi fisik karena harus berjalan yang relatif jauh antarlokasi dari/ke halte, dan juga membawa barang-barang belanjaan yang cukup berat. Krucil selalu siap dengan tas punggung untuk memuat belanjaan, plus tentengan kantung plastik kanan-kiri. Tapi, alhamdulillah, tidak mempengaruhi keteguhan dalam berpuasa. 🙂

Menjelang lebaran tiba, yang harus disiapkan adalah… makanan..! 😀

Untuk hal ini, dengan keterbatasan bahan yang tersedia di supermarket, tetap bisa dipenuhi. Kreativitas selalu muncul saat mana keterbatasan hadir. Ibunya krucil memanfaatkan celah ini untuk berkreasi di dapur. Hasilnya, persiapan santapan lebaran sangat manstap dengan rasa yang mendekati aslinya 😀

Malam takbir atau malam lebaran nggak ada rasanya tanpa suara takbir. Suara takbir dapat berasal dari apa/mana saja sumbernya. Berhubung masjid terdekat, dan satu-satunya di wilayah “kampung sini”, berjarak sekitar 10km, pastilah (walaupun seandainya takbir di masjid pakai Toa) nggak akan terdengar suara takbir dari rumah. Untuk itu digunakanlah mesin pencari untuk mengunduh gema takbir versi MP3. Terkumpul beberapa dan lumayanlah sebagai alunan suara yang dikumandangkan sejak hari Minggu siang hingga tengah malam.

Yummy : )

Yummy : )

Malam lebaran diisi juga dengan berkomunikasi intensif dengan banyak pihak di “kampung sana”. Sanak keluarga dan handai taulan tengah merayakan Idul Fitri. Perbedaan waktu yang 11 jam antara EST (Eastern Standard Time) dan WIB (Waktu Indonesia Barat) menyebabkan di “kampung sana” duluan merayakannya. Dan saat tengah malam disini sama dengan tengah hari disana. Komunikasi dilakukan dengan bantuan Skype untuk menghubungi telepon (fixed ataupun mobile phone) dengan biaya murah dan kualitas suara bagus.

Yang lucu dari komunikasi via Skype ini adalah karena memanfaatkan jaringan internet dan sistem tertentu maka nomor telepon yang muncul di ponsel sanak keluarga adalah angka yang aneh. Keanehan angka yang muncul mengakibatkan beberapa yang tidak mau menerima/mengangkat teleponnya. Tapi, alhamdulillah, lebih banyak yang mau menerima telepon dari kami, sehingga perbincangan lebaran berlangsung hangat… 😀

Hari lebaran tiba..!

Sholat Eid dilakukan didua lokasi dengan waktu yang berbeda. Pertama dilakukan di Masjid yang berlokasi di Jalan South Harrison pada jam 6.30. Ini untuk mengakomodir umat Islam yang tidak bisa ijin kantor untuk waktu yang lama. Sementara itu yang kedua dilakukan di Lansing Center, sebuah gedung serbaguna di pusat kota Lansing.

S: Gedung Lansing Center

Perjalanan pagi menuju Lansing Center kami lakukan dengan menggunakan bus. Pagi itu lumayan dingin, walau sedang musim panas tetapi suhu sekitar 13C. Untuk mencapai Central Lansing diperlukan dua kali bus, dan alhamdulillah sampai di lokasi jam 8.45. Masih ada waktu 15 menit sebelum dianjurkan gathering di dalam gedung, kami manfaatkan menikmati pemandangan sekitar gedung, walau dingin menusuk… 😀

Suasana keramaian dalam keberagaman : )

Suasana keramaian dalam keberagaman : )

Memasuki gedung Lansing Center beragam umat manusia muslim telah berada di dalam. Beragam pakaian dalam beragam gaya dan beragam penampilan dengan beragam “aliran”..? Entahlah, kegembiraan terpancar dari semua insan.

Memasuki hall tiap orang diberi kantung plastik untuk tempat sandal atau sepatu, dan segera menempati shaf terdepan.

Saat memulai tune-in dengan alunan takbir maka langsung terasa irama takbir yang berbeda. Berbeda dengan irama yang biasa tetapi okelah nggak perlu dibahas atau dipertentangkan… 😀

Kesamaan yang terasa juga ada, berisiknya anak-anak dan sebagian orang dewasa yang ngobrol…! Pimpinan acara selalu mengingatkan untuk tidak ribut, dan ternyata, kata-kata yang paling mujarab untuk mengurangi volume berisik adalah: “Ssssssttttt..!”… hahaha 😀

Sebelum sholat dimulai maka panitia mengumumkan tatacara melaksanakan sholat dalam tiga bahasa berbeda. Ini untuk antisipasi anggota keluarga yang mungkin tidak mengerti bahasa Inggris dan datang dari rumpun yang relatif dominan.

Selesai sholat maka semua saling berpelukan, tak peduli walau tak saling kenal. Ungkapan bahagia yang ikhlas memang tidak mengenal perbedaan. Saya dan pasukan sempat berpose di hallway gedung sebelum keluar.

Berbagai gaya :D

Berbagai gaya 😀

Gedung Lansing Center berada di dekat gedung kapitol dan pusat pemerintahan. Banyak tempat asik disini, dan kami pun menembus suhu dingin untuk menikmati dan merekam gambar atau berfoto sana-sini menikmati kota Lansing 🙂

Alhamdulillah, hari Idul Fitri yang indah…

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin untuk pembaca laman ini… 🙂

*/ : )

Beberapa foto dapat dilihat berikut ini:

Advertisements