Tags

, , , , , , , , ,

Istirahat di Springfield, Illinois.

Istirahat di Springfield, Illinois.

Waktu menunjukkan pukul enam empat lima, suhu rerata tidak terlalu dingin, hanya seputaran lima derajat Celsius. Yang membuat sengsara pagi itu adalah angin yang membuat suhu terasa (realfeel) entah minus berapa. Pagi itu saya sudah hadir di pelataran parkir Natural Resources Building untuk persiapan perjalanan bersama enam orang dalam tim kelas Agroforestri. Kami start pukul tujuh sekian dengan membawa dua truck (sering saya sebut sebagai mobil double cabin). Tujuan adalah kota Columbia di negara bagian Missouri.

Destination Columbia

Perkiraan lama perjalanan dari East Lansing ke Columbia adalah sekitar 9-10 jam dengan jarak tempuh, sesuai rute yang kami pilih, adalah 878 miles (1.400-an km). GPS sudah terset sesuai titik tujuan, dan sudah disinkronkan dikedua mobil truck Ford F150. Mobil pertama isinya saya dan Pascal (dosen sekaligus pimpinan tim kami). Mobil kedua berisi empat orang: Ismail (asal Turki), Yusuf (Indonesia), Devon (US), dan Mistergana (Nigeria).

Peta perjalanan pada Google Maps.

Peta perjalanan pada Google Maps.

Hari ini mendung setia mengawal kami. Sepanjang perjalanan tiada sinar matahari yang langsung menerpa mobil. Pemberhentian pertama kami adalah di Hartford setelah menempuh jarak sekitar 200an km. Para pengemudi memerlukan rehat sejenak. Penumpang pun demikian, pelurusan dengkul penting.

Istirahat sejenak di Hartford, Michigan.

Istirahat sejenak di Hartford, Michigan.

Suhu udara realfeel yang tidak bersahabat menyebabkan tidak terlalu nikmat berjalan di luar mobil atau gedung. Tapi lumayanlah untuk mengusir kejenuhan dalam mobil. Sebagian dari kami manfaatkan juga untuk menyiapkan minuman dan kudapan untuk perjalanan selanjutnya.

Lalu-lintas relatif sepi, mungkin disebabkan kami berjalan pada hari kerja (Rabu) dan pada jam pascasibuk. Jalan antarkota yang lebar menambah terasa sepinya perjalanan. Kepadatan mulai terasa saat mendekati Chicago. Walau kami tidak memasuki kota Chicago, tetap terasa bahwa jalur di luar kota pun, bagian Selatan kota, lalin padat.

Pemandangan beragam aktivitas terlihat dari keberagaman mobil yang memadati jalan. Tampak sebuah trailer besar (oversize load) sedang membawa rumah. Ini mengingatkan di tanah air juga ada jual-beli “rumah jadi”, yang kemudian diantar dalam bentuk sudah terbangun.

Truk mengangkut rumah.

Truk mengangkut rumah.

Lepas dari kepadatan Chicago adalah setelah kami melewati kota Joliet, kota satelit-nya Chicago, menuju ke Selatan. Pemandangan kanan dan kiri jalan segera berubah. Perubahan yang terlihat adalah dari banyaknya bangunan dan jejaring jalan raya menjadi tanah pertanian nan luas membentang.

Negara bagian Illinois adalah salah satu penghasil komoditas pertanian yang besar untuk Amerika. Luasnya lahan dan ekplorasi (atau eksploitasi?) lahan pertanian menjadi jamak terlihat dimana-mana. Penggunaan alat mekanik pertanian menjadi dominan untuk bisa mengolah lahan yang luas-luas ini. Terlihat berbagai jenis “traktor” ukuran besar dan kecil sedang bekerja memanen hasil. Ini adalah waktu panen terakhir tahun ini, sebelum istirahat musim dingin beberapa bulan.

Lahan pertanian yang luas pascapanen.

Lahan pertanian yang luas pascapanen.

Memasuki kota Bloomington terlihat banyak kincir angin. Kincir angin ini sangat berbeda bentuknya dibandingkan yang pernah saya lihat di Belanda. Mungkin karena peruntukan utamanya juga berbeda.

Di Belanda kincir angin banyak dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian dan juga untuk pengaturan air di polder. Sedangkan di kota Bloomington dan sekitarnya sepertinya lebih fokus pada pemanfaatan kincir angin untuk keperluan pembangkit listrik.

Kincir angin di Bloomington, Illinois.

Kincir angin di Bloomington, Illinois.

Sampailah kami di kota Springfield, ibukota negara bagian Illinois, sekitar jam 1 siang. Saatnya mampir sejenak untuk makan siang dan istirahat. Perjalanan masih jauh.

Negara bagian Illinois mempunyai kota metropolitan yang sangat terkenal yaitu Chicago. Sedangkan ibukota pemerintahannya terletak di kota Springfield, kota kecil jauh di Selatan Chicago.

Dari Springfield kami menlalui Route 72 ke arah Barat. Lalu masuk ke jalur yang lebih kecil Route 54 arah Selatan. Ini bagaikan dari jalan Tol masuk ke jalan Provinsi. Kami membelah daerah pedesaan dan pertanian yang mempunyai pemandangan jauh lebih menarik dibandingkan pemandangan saat di Route 72 tadi.

Berbagai bangunan khas pedesaan terlihat di kanan-kiri jalan, jadi ingat dengan permainan di Facebook: Farmville..! 😀

Jembatan yang melintasi sungai Mississippi.

Jembatan yang melintasi sungai Mississippi.

Tak berapa lama kami sampai di perbatasan antara Illinois dan Missouiri. Perbatasan ini ditandai oleh sungai terpanjang di Amerika yaitu sungai Mississippi. Melintasi jembatan panjang antara kedua tepi menandakan kami memasuki negara bagian Missouri, dan tiba di kota kecil Louisiana dimana kami mengisi bahan bakar mobil.

Mendekati kota Mexico terjadilah kemacetan cukup panjang. Hampir satu jam kami tertahan dalam antrian yang sangat lambat ini. Entah penyebabnya apa tetapi cukup menjengkelkan karena waktu tempuh menjadi molor. Sambil merayap dalam antrian, pemandangan di lahan pertanian lumayan asik. Setidaknya ada beberapa traktor besar sedang bekerja dan asik juga mengamatinya dengan binokular.

Columbia..! Akhirnya kami sampai juga di kota ini, sekitar jam 6 petang. Segera parkir di Red Roof Inn untuk tiga malam. Mungkin ini penginapan sekelas melati, lumayan lah untuk sekedar numpang tidur 😀

Makan malam di resto MainSqueeze, Columbia.

Makan malam di resto MainSqueeze, Columbia.

Lokasi Columbia pada Google Maps, klik disini.

Kegiatan hari ini kami tutup dengan makan malam di kota Columbia. Saya memilih makan sehat dengan full sayuran, dan mencoba sekuat tenaga dan perasaan untuk mengabaikan rasanya… 😀

*/ : )


Tulisan ini adalah cerita saat fieldtrip pada Oktober 2014. Ikuti dengan tag #MOtrip.

Advertisements