Tags

, , , , , ,

Percakapan di Facebook.

Percakapan di laman Facebook Quba Islamic Institute.

Kebencian sering kali datang dari ketidaktahuan akan kondisi yang sebenarnya. Demikian juga yang terjadi dimedia sosial. Pengguna medsos hanya membaca selintas (seringkali tidak dipahami isi status/bacaannya) kemudian komentar langsung mengalir deras.

Kebiasaan dalam bereaksi cepat tanpa pertimbangan yang baik seringkali akan mengakibatkan pihak lain merasa dirugikan. Kerugian ini bisa mengakibatkan banyak hal, dari yang remeh temeh sekedar dongkol hingga menyangkut langsung nyawa manusia.

Pada 13 Februari 2015, terjadi kebakaran di sebuah bangunan Islamic Center di Quba Islamic Institute di Houston, Texas, selang waktu yang relatif tidak lama setelah tiga pemuda muslim ditembak di Chapel Hill, dekat University of North Carolina. Polisi mengatakan bahwa kebakaran ini bukanlah ketidaksengajaan.

Quba Islamic Center, melalui laman Facebook-nya mendapat banyak sekali respon dari pengunjung. Salah satu pengunjungnya, yang bernama Oso Osorio, menuliskan suatu hal yang terlihat tidak pantas.

Ia menulis: “I can donate some bacon sandwiches and a bible if you all want!” (Saya dapat sumbangkan beberapa sandwich daging babi dan sebuah bibel jika kamu mau!).

Imam masjid tersebut, Ahsan Zahid, berusia 25 tahun, menjawab: “We would gladly take your donation. Knowledge is something we can never have enough of. And we may feed the homeless in our area with the sandwiches. You are such a thoughtful human being!” (Kami akan dengan senang hati mengambil donasi Anda. Pengetahuan adalah sesuatu yang kita tidak pernah memiliki cukup. Dan kita bisa memberi makan tunawisma di daerah kami dengan sandwich. Anda adalah manusia bijaksana!)

Alhamdulillah, imam Ahsan sangat memahami perilaku dimedia sosial. Ia dengan bijak selalu menjawab dengan kata-kata yang indah.

Semoga kebencian dari ketidaktahuan dapat dikalahkan dengan pendekatan dialog dan kebijakan bersilaturahim. 🙂

Sumber:

Advertisements