Tags

, , , , , , ,

Suasana dalam kelas saat MOS

Suasana dalam kelas saat MOS

Sekitar setahun lalu, anak-anak kami mengalami hal baru di kampung baru. Setibanya disini mereka segera bersiap mengalami pengalaman yang tidak pernah terbayangkan, karena memang belum pernah dilihat secara langsung. Mereka harus memasuki sekolah baru dan lingkungan yang baru.

Masa sekolah dimulai serentak (dari SD hingga SMA) pada awal bulan September. Ini adalah suatu rangkaian lanjutan, setelah sebelumnya, pada bulan Agustus tanggal tertentu anak-anak mengikuti MOS, atau Masa Orientasi Siswa.

Masa Orientasi Siswa (MOS), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), atau kini disebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru. (Wikipedia, Juli 2015)

Masa Orientasi Siswa

MOS di SMP (untuk si ragil) dan SMA (sulung) dilaksanakan pada bulan Agustus setelah urusan pendaftaran sekolah selesai semua. Kami, ortu, dikirimi undangan untuk hadir bersama anak-anaknya. Jadi yang diundang tidak hanya anak-anak tetapi ortu juga. Hari kedatangan diatur sesuai jadwal tertentu, untuk kelas sekian sampai sekian hadir tanggal sekian. Jam kehadiran juga bukanlah pagi atau siang atau jam kerja, tetapi sore atau malam saat ortu selesai jam kerja. Jadi diharapkan semua ortu/wali bisa hadir berhubung MOS ini penting sekali bagi keberlangsungan proses belajar-mengajar di sekolah.

Kami sebagai ortu hadir baik saat MOS SMP maupun saat MOS SMA. Kegiatan apa yang dilakukan saat MOS ini..?

Saat datang di sekolah, kami diberi selebaran jadwal. Ini adalah jadwal keliling kelas sesuai jam/menit yang disediakan. Murid dibolehkan mengambil maksimum enam pelajaran, sehingga kelas yang akan kami kunjungi adalah enam kelas, dengan durasi tiap kelas adalah 10 menit. Jadi, dalam satu jam semua kegiatan harus selesai.

Ohya, disini sistemnya adalah tiap mata pelajaran mempunyai satu kelas khusus, sehingga nantinya anak-anak yang berpindah ruangan tiap ganti pelajaran. Sebagian dari kita mengenalnya sebagai “moving class”.

Memasuki kelas pertama, ortu dan anaknya duduk bebas. Guru langsung membuka dengan salam kemudian memperkenalkan diri secara ringkas, kemudian menjelaskan mengenai mata pelajaran yang diajarkannya. Presentasi melalui proyektor ke layar depan kelas. Setelah selesai presentasi, ortu dan anak diberi kesempatan bertanya apapun mengenai hal yang berkaitan dengan matpel itu. Tepat 10 menit bel sekolah berbunyi, dan semua segera berpindah ke kelas lain secepatnya. Karena perpindahan kelas hanya dua menit dan bersiap dalam kelas satu menit, kemudian jatah guru bicara dan diskusi adalah tujuh menit.

Penjelasan dari guru pada ortu/wali dan anak.

Penjelasan dari guru pada ortu/wali dan anak.

Semua guru mempunyai web, baik yang dikelola pihak sekolah ataupun personal. Dan semua mengatakan bahwa komunikasi bebas 24 jam melalui email. Email lebih efektif karena jika melalui telepon ada kemungkinan saat ditelepon ada halangan menjawabnya, misalnya sedang mengajar atau kegiatan lain yang tidak memungkinkan menjawab telepon. Kemudian hari saya mencoba kontak via email memang sangat cepat responnya. 🙂

(Baca juga: Belajar Sejarah Melalui Peta)

Tujuan orientasi sekolah adalah mengenalkan kondisi sekolah secara umum, yaitu ortu bisa melihat kondisi kelas, laboratorium, fasilitas umum, dan lain-lain secara langsung. Yang lebih penting dari itu adalah ortu/wali dan anak mengetahui matpel apa yang akan dipelajari satu triwulan kedepan. Ohya, disini sistemnya adalah triwulan.

Wali disini adalah orang yang bertanggung jawab secara hukum pada si anak. Wali bukanlah “wakil” ortu yang datang ke sekolah. Sehingga dijamin 100% tidak ada “pembantu” yang datang ke sekolah… 😀

Antar Anak Sekolah

Bagaimana dengan mengantar anak ke sekolah? Segala hal yang berhubungan dengan antar atau jemput anak sekolah adalah kewajiban ortu/wali. Hal ini tidak boleh diwakilkan sama sekali. Jika satu waktu si anak dijemput oleh orang yang bukan ortu/wali maka sekolah tidak akan mengijinkan anak untuk keluar sekolah. Bahkan urusan bisa menjadi panjang dengan dipanggilnya pihak kepolisian.

Hari Pertama berangkat sekolah...!

Hari Pertama berangkat sekolah…!

Lalu bagaimana jika ortu/wali tidak bisa antar atau jemput anaknya? Sekolah menyediakan bus jemput/antar anak-anak. Dari mulai Taman Kanak-Kanak hingga SMA semua ada bus jemput/antar. Jadi anak-anak yang tidak diantar/jemput ortunya bisa memanfaatkan kendaraan ini. Ini adalah fasilitas yang bebas biaya alias gratis.

Kalau si anak mau berangkat sendiri ke sekolah, misalnya dengan sepeda, bisakah? Bisa saja tetapi dengan tanggung jawab sepenuhnya ada di ortu. Dan jika diamati maka sebagian besar anak-anak memanfaatkan bus sekolah, baru kemudian diantar/jemput oleh ortu/wali, dan sedikit sekali yang datang/pulang sendiri. Untuk yang datang/pulang sendiri biasanya dalam radius  dua kilometer, karena dalam radius ini tidak ada fasilitas Bus Sekolah.

Anak-anak saya semua memakai Bus Sekolah. Dan anak-anak SMP maupun SMA busnya disamakan. Lumayanlah, jadi si kakak-adik bisa saling jaga. Sebagai penduduk baru tentunya penting banget untuk saling kontak setiap waktu, termasuk anak-anak saat pergi-pulang sekolah.

Hari pertama mereka masuk sekolah, apakah kami mengantarkan..?

Ya, tapi cuma sampai Bus Stop terdekat dimana Bus Sekolah berhenti pada pickup point yang telah ditentukan. Jauh-jauh hari telah dibagikan peta jalur bus, nama supir dan kontak ponselnya. Jadi kami sebagai ortu sudah mengetahui jadwal waktu dan lokasi bus.

Guru mengajak murid baru mengenal daerah asalnya.

Guru mengajak murid baru mengenal daerah asalnya.

Bagi ortu/wali yang tidak menggunakan fasilitas Bus Sekolah maka mereka mengantarkan sampai sekolah. Itupun tidak dibolehkan masuk gedung sekolah, tetapi hanya sampai lobby saja. Ortu/wali hanya boleh masuk gedung sekolah saat ada undangan khusus misalnya MOS, atau pertemuan ortu-guru, atau keperluan lain yang penting.

Kembali ke “hari pertama” masuk sekolah. Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap. Bus jemputan terjadwal jam 7, sehingga sebelum waktu tersebut kami sudah harus siap di Bus Stop. Ada sekitar delapan anak (SMP maupun SMA) yang menunggu si titik-jemput itu. Dan hanya saya dan istri yang antar anak-anak kami, hehehe. Mungkin karena titik-jemput ini hanya di depan komplek kami, dan ortu mereka telah terbiasa tahunan dengan kondisi “hari pertama”. Sedangkan bagi kami ini adalah hal yang pertama. 😀

…..

Sekian lama mengalami budaya MOS dan antar-anak, baru kali ini saya mendapatkan pengalaman baru yang mengasyikkan. Bagi saya tentunya MOS yang dialami ini adalah sesuai dengan tujuannya dan juga sesuai dengan angan-angan saya selama ini.

Secara pribadi saya tidak pernah mengikuti MOS sejak saat masuk SD hingga PT, alasannya karena… Mau tau…? Atau mau tau bangeet..? 😀

Segala yang dialami di kampung sini akan menjadi hal yang menarik untuk satu saat nanti saat saya menjadi kepala sekolah maka sistem pun saya buat dengan lebih menarik yang melibatkan semua pemangku kepentingan…

#GueMahGituOrangnya 😎

Eh, tapiii… guru aja bukan apalagi kepala sekolah… #AkuMahApaAtuh… 😀

*/ : )

Advertisements