Tags

, , , , , , ,

Masjid dan Gereja Damai Berdampingan. (Credit: Karl Gude)

Masjid dan Gereja Damai Berdampingan. (Credit: Karl Gude)

Temperatur di sebagian Amerika sudah menukik tajam dalam rangka menyambut musim dingin. Tetapi suhu politik dan hubungan antarmanusia (tepatnya, antargolongan) memanas. Kampanye pemilihan Presiden yang membawa-bawa golongan dan “agama” menjadi penyebabnya. Pemantiknya, apalagi, kalau bukan isu-laten: teroris. Media nasional kemudian mendapatkan bumbu penyedap untuk menggorengnya.

Apapun yang terjadi, muslim Amerika, khususnya di kota Lansing (ibu kota Michigan) dan sekitarnya selalu berusaha menjadi muslim yang membawa agama dengan baik dan cara yang benar. Setidaknya itu yang saya lihat dan alami.

Menjadi duta agama itu tidak mudah, karena ada “miliaran aliran agama” dimasa lalu para penganutnya, yang telah diyakini sejak jaman nenek moyang di tempat asalnya masing-masing, dari seluruh dunia. Boro-boro dari seluruh dunia yak, yang asalnya dari beda kampung aja bisa punya “aliran” yang beda-beda kok… 😀

Di East Lansing terdapat contoh nyata kerukunan agama yang dimulai, dan terus berlangsung, dari kehidupan masjid dan gereja yang berdampingan. Sebuah tulisan menarik dari Lansing Street Journal menggambarkan hal itu pada artikelnya yang berjudul: East Lansing mosque, church forge friendship (13 Desember 2015).

Berdasar artikel itu dan informasi lain, seorang pengguna Facebook, Karl Gude, menampilkannya dalam infografis seperti foto diatas. Bagi anda yang sulit membaca tulisan pada infografis, saya coba tuliskan dibawah ini:

  • Pelayanan bersama. 100 orang dari gereja dan 50 orang dari masjid bekerja bersama dalam suatu proyek kemanusiaan bernama “God’s Work, Our Hands” di gereja.
  • Pembicara tamu. Imam masjid (tahun ini) telah dua kali sebagai pembicara dalam Grup Diskusi Minggu di gereja mengenai agama Islam.
  • Saling menolong. Anak-anak sekolah Islam dipersilakan bermain di taman bermain milik gereja.
  • Tempat parkir. Gereja membolehkan muslim memarkirkan kendaraannya yang tidak tertampung di halaman masjid, terutama hari Jumat atau perayaan tertentu.
  • Jalan penghubung. Antara halaman masjid dan gereja dibuat jalan penghubung khusus yang menggambarkan pertemanan kedua pihak.
  • Dukungan perluasan. Gereja selalu mendukung usaha pihak masjid dalam memperluas bangunan karena bertambahnya umat yang datang.
  • Berbagi makanan. Muslimah masjid menyiapkan makanan untuk anak-anak yang belajar kitab/bible di gereja, walaupun saat itu sedang puasa dalam bulan Ramadhan.
  • Saling menolong. Muslim masjid menolong membangun rumah milik umat gereja melalui pekerjaan Habitat for Humanity.

Tentunya masih banyak lagi kasus harian dimana kedua belah pihak saling berbagi pertolongan dan perhatian yang belum tersebutkan. Hal ini telah berlangsung lama, sejak masjid ini dibangun pada tahun 1979.

Masjid ini bernama: Islamic Center of East Lansing.

Dan gereja ini bernama: University Lutheran Church.

Kebersamaan yang mengasyikkan, saling membantu tanpa mengusik keyakinan masing-masing.

Kekuatan agama/keyakinan adalah bagaimana kita mempraktikkannya pada kehidupan nyata sehari-hari. Jika niat kita untuk keselamatan, maka prosesnya pun akan mengacu pada keselamatan… untuk di dunia dan akhirat.

Caranya bagaimana..? Anda lebih tahu jawabannya.. 🙂

Untuk lebih jauh, sila baca juga posting yang terkait tulisan ini:

Mari menjadi duta yang baik dan dengan cara yang benar.

Worship with style..? Why not..!

🙂

Advertisements