Tags

, , , , , , , , , , ,

Captain America Civil War (sumber: anonim)

Captain America Civil War (sumber: anonim)

Tulisan ini bukan resensi film, apalagi iklan. Ini cerita dari penonton biasa, yang menemukan beberapa hal menarik pada film gaduh para superhero “made in” Marvel yang diedarkan pada tahun 2016.

Salah satu kebiasaan kami dalam keluarga adalah nonton bareng alias nobar untuk film-film yang kami nilai asik punya. Alasannya adalah sambil nonton bisa sekalian belajar bahasa Inggris ala film :D. Tentunya nggak hanya itu ya…, banyak hal bisa dinikmati dalam kebersamaan.

Beberapa film asik yang kami nikmati dengan nobar di rumah diantaranya adalah mengenai fenomena alam Twister dan Tornado dan tentang gunung berapi Yellowstone. Film India pun kami lihat seperti Three Idiots (2009) dengan pesan moral yang tinggi tetapi dengan frekuensi lagu yang rendah :D.

Ada juga film di bioskop ataupun pemutaran film khusus di kampus seperti The Scent of Green Papaya. Biasanya setelah menonton bersama kami adakan diskusi ringan mengenai apa yang telah kami lihat.

Selasa malam bulan Mei ini kami kembali ngariung sambil nonton film via internet di depan TV. Kali ini adalah Captain America: Civil War (2016). Film ini semua sudah tahu, apalagi para penggemar komik buatan Marvel, karena memang semua tokoh superhero Marvel ditampilkan difilm ini. Captain America, Iron Man, Spiderman, Ant Man, dan banyak lagi. Para superhero ini, selain membela kebenaran, juga ditampilkan sisi manusianya yaitu dapat dipecah-belah sehingga gaduh sendiri.

Pagi hari, saat sarapan, kami sempatkan sedikit diskusi mengenai film yang kami lihat tadi malam. Banyak hal yang nggak masuk akal tentunya, karena memang superhero yang hidup pada waktu dan tempat berlainan kok bisa-bisanya reuni. Tapi ah sudahlah… nikmati sajah, he he he.

Hasil diskusi kami pagi itu adalah:

  1. Superhero dapat dihancurkan dengan keinginan politik. Keinginan badan dunia mengendalikan sepak terjang para superhero adalah intrik politik yang menggoyahkan cara pandang para jagoan ini. Satu pihak setuju dengan pengendalian PBB, sementara pihak lain merasa tidak perlulah seperti itu… Hal ini termasuk kasus kriminalisasi yang dialami beberapa tokoh superhero tersebut, dengan pemberitaan yang menyudutkan terkait dengan kerusakan yang terjadi saat mereka beraksi. 😀
  2. Dan hebatnya ada lagi, yaitu kesatuan superhero dapat dipecah oleh kepiawaian tokoh pemfitnah yang “bukan siapa-siapa”, yang bernama “Jon”-Zemo. Saya tambahkan kata Jon hanya untuk menghormati tokoh pemfitnah ternama beberapa tahun terakhir di media sosial. Si Jon Zemo, hanya karena merasa tidak adil saat keluarganya terbantai dan tidak ada pertolongan dari superhero yang diharapkan, maka ia merencanakan kehancuran dengan menggunakan akalnya. Ia bukan siapa-siapa, nggak punya kehebatan apapun, tetapi punya kreativitas sebagai pemfitnah piawai. Dan terbuktilah ia bisa tersenyum dengan menikmati kehancuran yang ada. Hal ini mengingatkan perseteruan antara Batman dan Superman dalam Batman v Superman (difilm lain lagi, seterunya kelompok Marvel) yang difitnah oleh “Jon”-Luthor.

Pesan moral dari film ini adalah: “Fitnah lebih kejam dari Civil War”. 😀

*/ : )

Advertisements